1
1
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan pengembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, kemajuan AI tidak cukup hanya diukur dari kemampuan teknologinya, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan untuk menjawab kebutuhan sehari-hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Meutya dalam XI International Scholas Chairs Congress 2026 di Kura-Kura Bali, Denpasar, Jumat. Ia memperkenalkan konsep Meaningful AI, yakni pengembangan AI yang diarahkan untuk menghasilkan manfaat konkret bagi masyarakat.
Meutya melihat AI kini telah berkembang dari teknologi eksperimental menjadi bagian dari berbagai aktivitas manusia. Pemanfaatannya mencakup pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, pelayanan publik hingga pengambilan keputusan.
Karena itu, menurutnya, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada kemampuan mesin. Kesiapan manusia dan institusi dalam mengarahkan teknologi agar digunakan secara bertanggung jawab juga menjadi faktor penting.
Konsep Meaningful AI yang disampaikan Meutya memiliki lima dimensi. Pertama, AI for Productivity untuk meningkatkan efektivitas pekerjaan. Kedua, AI for Public Good guna mendukung sektor pendidikan, kesehatan, pangan, dan pelayanan publik. Ketiga, AI for Inclusion untuk memperluas akses terhadap pengetahuan dan layanan dasar.
Selanjutnya, AI for Competitiveness diarahkan untuk memperkuat talenta, riset, inovasi, serta dunia usaha Indonesia. Sementara AI for Resilience ditujukan untuk membantu masyarakat menghadapi ancaman keamanan siber, bencana, perubahan iklim, dan berbagai gangguan lainnya.
Meutya mengatakan Indonesia perlu membangun kapasitas AI sendiri, bukan sekadar menjadi pasar teknologi negara lain. Untuk itu, kebijakan, riset, talenta, investasi, infrastruktur, dan penerapan AI perlu diselaraskan dengan kebutuhan nasional.
Arah tersebut terhubung dengan tiga pilar transformasi digital Indonesia, yaitu Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Pemerintah ingin memperluas konektivitas dan akses teknologi, mendorong inovasi serta produktivitas, sekaligus memastikan penggunaan AI berlangsung secara etis, aman, transparan, dan akuntabel.
Implementasi AI juga mulai diarahkan pada kebutuhan praktis. Teknologi IoT di sektor pertanian disebut mampu mengurangi penggunaan pupuk lebih dari 40 persen, sedangkan digitalisasi perikanan meningkatkan produksi lebih dari 40 persen. Kemkomdigi juga mendampingi 150 pelaku UMKM di Wonogiri dan Banyuwangi dalam pemanfaatan AI untuk bisnis, branding, konten, dan pemasaran.
Pemerintah turut menyiapkan National AI Roadmap 2026–2029 dan regulasi etika AI berbasis risiko dengan memperhatikan kemanusiaan, keselamatan, transparansi, akuntabilitas, perlindungan data pribadi, lingkungan, serta kekayaan intelektual.